Thursday, 5 January 2017

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (PEMBUATAN DATABASE DENGAN MS. EXCEL)

TUGAS PRAKTIKUM
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


ACARA I
PEMBUATAN DATABASE DENGAN MS. EXCEL









Oleh :
Moch. Bachrul Alam
A0A013078





KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO

2015


Monday, 2 January 2017

BUDIDAYA KACANG EDAMAME

Edamame adalah kacang kedelai yang masih dalam polong yang belum sepenuhnya dewasa. Edamame sering dapat ditemukan di Jepang, dan di Hawaii. Departemen Pertanian Amerika Serikat menyatakan bahwa kacang edamame adalah kedelai yang dapat dimakan langsun atau masih segar dan yang dikenal terbaik sebagai camilan dengan kandungan gizinya. Edamame kaya protein, serat makanan, dan mikronutrien, terutama folat, mangan, fosfor dan vitamin K. Keseimbangan asam lemak dalam 100 gram edamame adalah 361 mg asam lemak omega-3-1794 mg omega-6 asam lemak. Untuk itu budidaya kacang edamame juga berpotensi untuk mendorong perekonomian sehari-hari.
Lingkungan yang Cocok
Persyaratan pertumbuhan kedelai jepang (edamame) hampir tidak berbeda dengan pertumbuhan kedelai lokal. Kedelai dalam tumbuh di daerah daratan rendah dan tinggi. Kedelai sangat baik apabila ditanam di tanah yang subur, gembur, dan cukup air, tetapi tidak becek. Kebersihan terhadap pembudidayaan kedelai jepang tergantung pada kecukupan air, kelembaban yang tinggi, dan pemeliharaan yang intensif (pemeliharaan yang teratur).
Sebagai barometer (pedoman) untuk mengetahui bahwa suatu tanah merupakan tempat yang cocok untuk tanaman kedelai atau tidak cocok dapat dilihat apakah tempat itu dapat ditanami tanaman jagung. Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya pun baik, daerah tersebut cocok untuk tanaman kedelai baik kedelai lokal maupun kedelai jepang (edamame).
Penanaman
Pengolahan Tanah
Tanah merupakan media tumbuh dan perkembangan tanaman. Namun, tidak begitu saja tanah dapat menjamin keberhasilan usaha penanaman. Adakalanya penanaman berhasil, tetapi andakalanya kurang berhasil, dan bahkan gagal.
Untuk menunjang keberhasilan usaha penanaman, perlu diperhatikan pengolahan tanah sebelum tanam, walaupun kedelai dapat ditanam tanpa pengolahan tanah terlebih dahulu.
Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.
Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.
Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).
Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.
Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.
Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.
Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).
Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.
Cara Tanam
Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 20 x 20 sampai dengan 25 x 25 cm dengan kedalaman ± 3 cm, satu lubang ditanami satu biji.
Pemberian Penutup Tanah (Mulsa)
Jerami
Setelah kedelai tumbuh, segera diberi penutup tanah (mulsa) dari jerami. Pemberian jerami dilakukan secara hati-hati agar tidak mematahkan kedelai yang baru tumbuh. Mulsa selain dapat mempertahankan kelembapan tanah, juga dapat menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu). Selain itu, setelah busuk, jerami dapat berfungsi sebagai pupuk.
Pola Tanam
Kedelai jepang (edamame) memiliki tiga macam pola tanam. Pola tanam itu adalah sebagai berikut :
  1. Pola tanam menokultur (satu jenis tanaman), tanaman kedelai ditanam khusus pada satu areal tanpa adanya campuran tanaman lain.
  2. Pola tanam tumpang sari, tanaman kedelai ditanam dalam satu arela bersama dengan tanaman lain, misalnya dengan tanaman jagung dan ketela pohon.
  3. Pola tanam Alley cropping, tanaman kedelai ditanam pada areal berlereng dengan batas tanaman lain sebagai pagar.
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman dalam pembudi- dayaan edamame meliputi, penyulaman, penyiangan, pemupukan, pengairan, pem- bumbunan, dan pengendalian hama penyakit.
Penyulaman
Agar tanaman dapat tumbuh dengan serempak, sebaiknya bersamaan dengan penanaman disiapkan juga pembibitan kedelai dalam polybag atau kantong-kantong plastik kecil yang telah diisi dengan campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang\kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Penyemaian kedelai untuk cadangan penyulaman lebih kurang | bagian (^-nya dari jumlah benih yang ditanam).
Namun, apabila penyulaman dilakukan dengan menggunakan biji, penyulaman di­lakukan sedini mungkin (lebih kurang 5 hari setelah tanam). Penyulaman dapat mengguna­kan benih cadangan yang disiapkan untuk penyulaman.
Peyiangan
Penyiangan dalam pembudidayaan kedelai jepang (edamame) mutlak dilakukan untuk mengurangi persaingan hidup antara tanaman pokok dan gulma yang ada pada tanaman. Penyilangan dilakukan pada umur 3-4 minggu. Penyilangan tidak boleh dilakukan pada saat tanaman sedang berbunga karena dapat merontokkan bunga.
Gulma yang sampai sekarang merupakan kendala yang sulit dikendalikan adalah rumput teki. Hal itu disebabkan daur hidupnya relatif singkat. Umbi yang tertinggal ± 2 hari mulai tumbuh kembali.
Pembumbunan
Pembumbunan biasanya dilakukan ber- samaan dengan penyilangan dan sekaligus dengan penggemburan tanah di sekitar batang.
Pembumbunan pada edmame bertujuan
  1. Memperkokoh batang edamame agar tidak mudah roboh;
  2. Memperbaiki aerasi (pertukaran udara dalam tanah) dan pengairan tanah;
  3. Menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu);
  4. Mempercepat proses pembusukan mulsa (penutup tanah) sebagai penambahan pupuk organik tanah.
Pembumbunan dilakukan pada saat setelah dilakukan pemupukan susulan, ± pada umur 20 hari, agar pupuk yang diberikan dapat diserap tanaman secara efektif (dengan baik).
Pembumbunan selanjutnya dilakukan menjelang tanaman berbunga. Pembumbunan dilakukan dengan mengesrik dan menaikkan tanah antarbedengan ke permukaan bedengan di antara barisan tanaman.
Pemupukan
Tanah merupakan media untuk tumbuh tanaman. Di dalam tanah terkandung unsur-unsur hara, baik unsur makro maupun mikro. Namun, kandungan hara belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Jika kekurangan unsur tersebut, tanah harus diberi pupuk. Tanah yang kekurangan pupuk, tetapi tidak diberi tambahan pupuk maka petumbuhan tanaman akan terganggu.
Untuk mendaptkan pemupukan yang efektif, pemupukan harus memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatif. Persyaratan kuantitatif adalah dosis pupuk yang diberikan. Persyaratan kualitatif mencakup 3 hal.
  1. Unsur hara (pupuk) diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  2. Waktu dan penempatan pupuk harus tepat.
  3. Pupuk yang diberikan dapat diserap oleh tanaman.
Apabila pemupukan dapat memenuhi persayaratan seperti di atas, kemungkinan besar hasil pemupukan akan tercapai secara maksimal.
Dalam pemupukan dikenal adanya pemupukan persediaan dan pemupukan susulan. Pemupukan persediaan dilakukan sebelum tanam atau bersamaan dengan penanaman, sedangkan pemupukan susulan diberikan setelah tanam.
Pupuk adalah bahan organik/anorganik yang diberikan pada tanah guna melengkapi unsur hara esensial bagi tanaman atau untuk memperbaiki sifat tanah.
Pupuk Anorganik
Yang termasuk pupuk anorganik adalah Urea, ZA, TSP, KCI, dan ZK pupuk buatan pabrik.
Kebaikan pupuk anorganik, antara lain adalah :
  1. Susunan dan kandungan unsurnya tetap;
  2. Perhitungannya lebih mudah sehingga mudah untuk menetapkan dosis;
  3. Menghemat tenaga.
Keburukan pupuk anorganik adalah :
  1. Apabila terus-menerus dipupuk dengan pupuk anorganik karena sebagian mengandung unsur mikro, tanah akan kekurangan unsur mikro.
  2. Pupuk anorganik sering memberi pengaruh yang kurang baik terhadap keadan fisik tanah (struktur tanah menjadi jelek).
  3. Mikro organisme tanah tidak berkembang dengan baik.
  4. Kesalahan teknis menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tanaman seperti terbakar.
  5. Pada umumnya pupuk anorganik hanya mengandung 2 unsur makro saja, ada kalanya mengandung 2 unsur atau lebih, seperti pupuk kompond/campuran (NPK).
Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman atau kotoran hewan yang telah membusuk. Dalam penggunakaan pupuk, lebih tepat apabila petani menggunakan pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau).
Dengan menggunakan pupuk organik, petani dapat memanfaatkan sisa-sisa tanaman, sampah, dan juga kotoran hewan untuk dijadikan pupuk yang baik bagi tanaman dan tanah. Penggunaan pupuk organik selain dapat menambah kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman juga dapat memperbaiki struktur tanah (memperbaiki kondisi tanah).
Dengan demikian, tanah yang tadinya padat dan keras akan menjadi gembur. Jenis pupuk organik, di antaranya, adalah pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk hijau.
Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang terbuat dari kotoran ternak, sisa makanan, atau kotoran bekas alas tidur ternak. Kotoran yang baru keluar dari perut ternak belum dapat digunakan untuk memupuk. Kotoran ternak itu harus ditimbun dahulu selama ± 2 bulan. Setelah itu, dapat digunakan untuk pupuk.
Pupuk Kompos
  • Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman atau rumput-rumputan yang telah membusuk.
Cara pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut :
  • Sisa-sisa tanaman, sampah atau jerami padi yang telah dipotong-potong ditimbun di tempat yang tidak terkena hujan.
  • Setelah timbunan mencapai ± 50 cm, di atasnya dihamparkan kotoran ternak dan tanah setebal 5-10.
  • Di atas timbunan kotoran ternak dan tanah diberi tumpukan sisa-sisa tanaman lagi setebal 50 cm, kemudian ditaburi kotoran ternak dan tanah setebal 5-10 Pekerjaan ini diulangi sampai tumpukan mencapai tinggi 1,5-2 meter.
Seluruh tumpukan dilapisi dengan tanah. Setelah 2 minggu, tumpukan dibongkar dan dibalik-balik, kemudian ditimbun kembali. Lama pembuatan kompos ini lebih kurang 2 bulan dan setiap 2 minggu sekali dilakukan pembalikan.
Tanda-tandanya kompos yang sudah jadi adalah berwarna kelabu atau cokelat tua dan apabila dipegang sudah tidak panas lagi. Kompos yang demikian itu sudah dapat digunakan.
Pembuatan kompos
Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah pupuk yang bahannya berasal dari bagian-bagian tanaman yang berwarna hijau dan yang dimasukkan ke dalam tanah.
Tanaman pupuk hijau ini pada umumnya berbentuk perdu (semak). Syarat agar tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah
  • tumbuhnya cepat;
  • produksi daunnya banyak;
  • dapat tumbuh baik pada tanah-tanah yang kurus;
  • batang dan daunnya mudah busuk dan terurai apabila dimasukkan ke dalam tanah;
  • tanaman yang mempunyai bintil-bintil akar.
Contoh tanaman yang baik untuk pupuk hijau, antara lain, adalah orok-orok (Crotalaria juncea), rimusa (mimosa), dan lamtoro (petai cina).
Cara penggunaan pupuk hijau adalah sebagai berikut :
  • Tanaman Crotalaria dan mimosa yang menjelang berbunga serta daun lamtoro yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam tanah bersamaan dengan pengolahan tanah pertama. Selama lebih kurang 2 minggu, tanaman yang dimasukkan tadi akan hancur menjadi pupuk.
  • Jenis dan dosis pemupukan edamame berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil rekomendasi yang diberikan oleh dinas pertanian daerah masing-masing.
  • Tujuan pemupukan adalah memberi atau menambah unsur hara (zat-zat yang dibutuhkan tanaman) pada tanah dan tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman.
Waktu dan cara pemupukan
  • Pupuk kandang diberikan 7 hari sebelum tanam dengan kedalaman 10-15
  • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam.
  • Pupuk susulan diberikan apabila dirasa perlu. Pupuk yang digunakan untuk pupuk susulan adalah ZA atau Urea dengan dosis + 200 kg per hektar KCI 200 kg/ha. Cara pemberian pupuk adalah dengan ditugalkan.
Hama dan Penyakit Tanaman
Hama
Hama-hama yang dominan yang menyerang tanaman edamame pada setiap fase per- tumbuhan berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung hama, seperti cuaca atau ketersediaan makanan hama.
Hama-hama yang dapat menyerang tanaman kedelai, antara lain, sebagai berikut :
  • Lalat Bibit (Ophimyia Phaseoii)
Hama lalat bibit menyerang kedelai pada waktu perkecambahan. Lalat bibit meletak-kan telurnya pada keping biji atau pucuk daun yang masih muda.
Larva (ulat) yang keluar dari telur akan langsung menggerek keping biji atau pucuk daun yang masih muda sambil memakan, lalu masuk ke dalam batang dan dapat merusak kulit batang. Akhirnya, membentuk pupa pada pangkal batang. Akibat serangan itu tanaman akan layu dan apabila serangan parah tanaman akan mati.
  • Ulat Grayak (Prodebia Litura)
Ulat grayak diberi nama grayak karena serangannya dilakukan bersama-sama dalam jumlah yang besar dan secara mendadak.
Ulat-ulat yang baru menetas hidup secara bergerombol dan memakan daun. Setelah besar, ulat-ulat akan berpencar untuk mencari makan dan berpindah dari tanaman satu ke tanaman yang lain.
  • Ulat Polong (Etiela Zinchelta)
Ulat polong pemakan buah yang masih muda. Ulat polong yang baru menetas dari telur akan masuk ke dalam polong dan tinggal di dalamnya hingga besar.
Polong yang terserang memberikan tanda- tanda sebagai berikut :
  • Dalam buah terdapat lubang kecil, karena biji kedelai dimakan, sehingga di dalamnya tinggal ulat dan kotorannya.
  • Waktu buah masih hijau, bagian luar buah berubah warna dan jika dibuka terdapat ulat yang berwarna hijau.
Kumbang Daun Tembikar (Phaedonia Inciusa)
Kumbang daun tembikar berukuran kecil, berwarna hitam, dan di bagian tepi tubuhnya bergaris kuning. Kumbang itu berkembang biak dengan bertelur yang diletakkan di atas daun kedelai. Larva anak kumbang yang baru menetas dan kumbangnya memakan daun sehingga daun berlubang-lubang. Kumbang itu selain merusak daun juga merusak bunga dan polong.
  • Kepik Hijau
Hama kepik hijau menyerang tanaman dengan merusak kulit polong dan biji. Apabila serangan terjadi pada polong muda, biji akan mengkerut dan polongnya gugur. Apabila serangan akan hampa, lalu mengering. Apabila serangan terjadi pada masa pengisian biji, biji akan hitam dan busuk. Apabila polong telah tua, akan terbentuk bintik-bintik hitam pada biji atau kulit biji menjadi keriput.
  • Kutu Daun (Aphis Glycine)
Hama kutu daun berwarna hitam. Kutu daun yang dewasa ada yang bersayap ada yang tidak bersayap. Kutu daun biasanya menyerang tanaman kedelai pada awal pertumbuhan dan pada masa pertumbuhan bunga dan polong. Kutu daun menempel di balik daun dan kuncup tunas.
Penyakit
Penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai, antara lain adalah sebagai berikut :
  • Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri yang menyerang pangkal batang sehingga tanaman menjadi layu mendadak. Penyakit itu menyerang tanaman pada kebun yang kelembabannya tinggi dan tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat. Penyakit layu bakteri menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.
  • Penyakit Layu Jamur/Cendawan Tanah
Penyakit layu jamur menyerang bagian daun sehingga menjadi layu. Selain itu, penyakit layu jamur menyerang tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat dan menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.
  • Penyakit Antraknosa
Penyakit antraknosa menyerang bagian daun dan polong yang telah tua. Bagian yang terserang akan terbentuk bintik-bintik hitam. Polong yang terserang menjadi hampa atau kerdil.
  • Penyakit Busuk Batang
Batang yang terserang penyakit busuk batang akan menguning, kemudian berubah menjadi cokelat dan basah. Lama-kelamaan batang akan membusuk dan mati.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan 3 cara. Berikut ini akan dikemukakan satu per satu.
  • Pengendalian secara Mekanis
Pengendalian secara mekanis adalah pengendalian dengan cara mengambil dan membunuh hama yang menyerang tanaman satu per satu.
  • Pengendalian secara Biologis
Pengendalian hama secara biologis ini hanya mengandalkan serangan pemakan hama, baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar pada areal penanaman kedelai.
  • Pengendalian secara Kimiawi (Menggunakan Pestisida atau Obat untuk Membasmi Hama dan Penyakit)
Pengendalian secar kimia banyak digunakan karena merupakan cara yang paling efektif, baik untuk pengendalian hama maupun penyakit. Dalam pengendalian  secara kimiawi tanaman yang terserang hama atau penyakit disemprot dengan menggunakan pestisida (obat pembasmi hama dan penyakit).
Penggunaan pestisida berdasarkan pada tingkatan serangan hama atau penyakit yang menyerang tanaman. Cara dan dosis yang dperlukan disesuaikan dengan label yang terdapat dalam kemasan (pembungkus) pestisida yang digunakan.
Panen

Kedelai jepang (edamame) dipanen pada umur 60 – 65 hari. Caranya batang kedelai dipotong, kemudian polong-polong yang ada pada batang dipetik.

Saturday, 17 December 2016

LAPORAN PRAKTIKUM KAPITA SELEKTA II PEMBESARAN IKAN GURAMI DI UPT. BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR KUTASARI DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN PURBALINGGA

LAPORAN PRAKTIKUM
KAPITA SELEKTA II
ACARA IV
 PEMBESARAN IKAN GURAMI DI UPT. BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR KUTASARI
DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN PURBALINGGA




Disusun oleh :
Agnes Evilia A0A013018
Moch. Bachrul Alam A0A013078
Halimmatusa’diah A0A013080
Fauzi Rahmat M A0A013083
Sholih Nashoha A0A012026




KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI D3 AGROBISNIS
PURWOKERTO
2015 

Friday, 16 December 2016

PEMBENIHAN IKAN GURAMEH

KAPITA SELEKTA II
ACARA III
PEMBENIHAN IKAN GURAMEH




Disusun oleh :
Agnes Evilia A0A013018
Moch. Bachrul Alam A0A013078
Halimmatusa’diah A0A013080
Fauzi Rahmat M A0A013083
Sholih Nashoha A0A012026







KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI D3 AGROBISNIS
PURWOKERTO
2015 


MENGENAL BERBAGAI JENIS IKAN BUDIDAYA

LAPORAN PRAKTIKUM
KAPITA SELEKTA 2 (PERIKANAN)
ACARA I MENGENAL BERBAGAI JENIS IKAN BUDIDAYA






Disusun oleh :





KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI D3 AGROBISNIS
PUWOKERTO
2015


I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
ikan merupakan hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang belakang, insang dan sirip, terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai medium dimana meraka tinggal. Ikan memiliki kemampuan didalam air untuk bergerak menggunakan sirip unutuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak bergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angina. Dalam keluarga hewan bertulang belakang/vetebrata, ikan menempati jumlah terbesar, sampai sekaranag terdapat sekitar 25.000 spesies yang tercatat, walaupun perkiraannya ada pada kisaran 40.000 spesies, yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar diperairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan peraiean tawar (burhanudin, 2008).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis ikan yang tinggi. Letak perairan yang berada di daerah khatulistiwa dan beriklim tropis membuat Indonesia memiliki kekayaan jenis biota air yang lebih banyak dibandingkan daerah dingin maupun subtropics. Tidak kurang dari 7.000 spesies ikan terdapat di perairan Indonesia dan sekitar 2.000 spesies diantaranta merupakan jenis ikan air tawar dan sekitar 27 spesies yang sudah dibudidayakan.
Ikan budidaya sebagian besar adalah ikan yang digolongkan dalam Teleostei, golongan ikan mempunyai tulang tutup insang yang terbuka di bagian belakang untuk keluarnya air pernapasan dari rongga insang. Tubuh ikan Teleostei ditutupi oleh sisik, walaupun sebagian lagi ada yang tidak bersisik. Ikan budidaya di dalam pemeliharaan keseharian dibedakan menjadi ikan bersisik dan ikan tidak bersisik.

B.     Tujuan
Tujuan dilaksanakan praktikum mengenal berbagai jenis ikan budidaya adalah sebagai berikut:
1.      Mahasiswa tahu berbagai jenis ikan yang dibudidayakan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
2.      Mahasiswa dapat membedakan perbedaan ikan jantan dan betina dalam usaha pembenihan.
3.      Mahasiswa dapat membedakan karakteristik masing-masing ikan budidaya.


II.                PENGGOLONGAN IKAN
II. 1     CYPRINIDAE
Keluarga Cyprinidae ini memiliki banyak jenisnya yang telah dibudidayakan baik sebagai ikan konsumsi maupun ikan hias.
Tanda-tanda ikan ini secara umum adalah:
·         Ukuran panjang tubuhnya lebih besar dari tinggi tubuhnya.
·         Tubuhnya ditutupi oleh sisik yang teratur rapi.
·         Sirip ekor berjagak dua (homoserkal).
·         Gurat sisi sempurna tidak patah-patah.
·         Memiliki sungut sepasang/atau dua pasang atau tidak sama sekali
Berbagai jenis ikan golongan ini yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat antara lain :
1.      Ikan Mas (Cyprinus Carpio)
Ikan mas yang sudah dibudidayakan banyak sekali rasnya antara lain ikan mas Majalaya, Punten, Si Nyonya, Ikan Mas Kaca, Ikan Mas Koi dan lain-lain. Ikan ini ditandai dengan sirip punggungnya memiliki 4 jari-jari keras dan 16-18 jari-jari lunak, sehingga sirip ini tampak panjang hampir sampai ekornya. Memiliki dua pasang sungut yang pendek. Ikan ini omnivore atau memakan segala macam makanan. Ikan ini disebut juga ikan karper. Pada ikan jantan dewasa apabila diurut perutnya keluar sperma yang berwarna putih kental.
2.      Ikan Mas Koki (Carasius Auratus)
Hampir sama seperti ikan mas tetapi bedanya tidak bersungut, tidak sebesar ikan mas. Ikan berasal dari Cina dan sudah banyak diternak orang sebagai ikan hias. Ikan ini sudah banyak varietasnya.
3.      Ikan tawes (Puintus Javanicus)
Ikan ini banyak dibudidayakan hamper merata diseluruh nusantara. Bentuk tubuhnya sedikit gepeng, badannya relative tinggi dengan kepala yang pendek dan agak runcing, dengan sungut peraba atau satu pasang. Sirip punggungnya mempunyai 4 jari keras dan 8 jari lunak, lebih pendek dari ikan mas. Sirip ekornya bercagak simetris. Warna tubuhnya putih serta perak dan bagian punggungnya lebih gelap kehijau-hijuan. Ikan tawes tergolong ikan pemakan segala tapi cenderung menyukai tumbuh-tumbuhan dan plankton di alam bebasnya. Jantan dan betina dapat dibedakan selainpada yang jantan kalua diurut perutnya keluar sperma yang berwarna putih kental, pada yang jantan apabila diraba tutup insangnya terasa kasar.
4.      Ikan Nilem (Osteochilus Hasselti)
Bentuk tubuhnya hampir sama dengan ikan mas, bedanya kepalanya relative lebih kecil. Dewasanya juga tidak sebesar ikan mas. Memiliki 2 pasang sungut, dan bibirnya kasar berkerut karena ikan ini suka makan lumut/ alga yang menempel dibebatuan. Pakan utamanya diperairan umum adalah plankton dan tumbuh-tumbuhan air. Sirip punggungnya memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Warna tubuhnya hijau keabu-abuan atau hijau kemerah-merahan.
II.2      ANABANTIDAE
   Keluarga Anabantidae tergolong pada ordo labyrinthici karena jenis ikan yang tergolong dalam keluarga ini memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirin. Jenis ikan ini sewaktu-waktu mengambil udara dari permukaan air kemudian disimpan dalam labirin. Labirin mengandung banyak pembuluh darah yang fungsinya menyerap oksigen dari udara. Udara yang disimpan tadi selanjutnya masuk dalam peredaran darah. Tanda-tanda ikan ini secara umum adalah :
·         Tubuh ikan ini bentuknya memipih.
·         Bersisik kasar.
·         Mulutnya kecil, moncongnya pendek dan matanya besar.
·         Sirip punggung dan sirip dubur panjang dan lebar, memiliki jari-jari keras yang runcing seperti duri.
·         Sirip ekor membulat seperti gelung.
·         Sirip perut kecil, terletak berdekatan/ dibawah sirip dada..
Berbagai jenis ikan golongan ini yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat antara lain :
1.      Ikan Gurami (Ospronemus Gouramy)
Bentuk tubuhnya pipih dan lebar, tinggi badannya lebih dari separuh panjang tubuhnya. Pada waktu muda kepala lancip dan tubuhnya tampak bercak hitam membentuk garis tegak , namun setelah dewasa mulut tumpul dan garis-garis pada badannya hilang. Gurat sisi pada ikan ini sempurna.
Sirip punggung panjang dan lebar, memiliki 12-13 jari-jari keras yang keras dan tajam, dan 11-13 jari-jari lunak. Sirip ekor ujungnya membulat, sedang sirip perut terletak pada bagian depan dibawah sirip dada, dua dari jari-jari lunak pada sirip perut memanjang seperti pecut, yang berfungsi sebagai alat peraba. Sirip dada terdiri dari 2 jari-jari keras dan 13-14 jari-jari lunak. Pada ikan dewasa pangkal sirip dada sering digunakan untuk menandai sek kelamin. Apabila pangkal sirip dada  berwarna keputihan maka ikan tersebut berkelamin jantan, dan apabila berwarna kehitaman maka ikan tersebut betina.
Ikan gurami pada saat bertelur membuat sarang dari rumput-rumputan kering di dalam rongga pematang untuk menempatkan telurnya. Pada pemijahan yang dilakukan oleh pembudidaya tempat sarang telah disiapkan yang disebut sosog, dan bahan sarang dari serabut kelapa atau ijuk halus. Ikan gurami pada waktu muda pemakan segala tapi dewasanya menyukai daun-daunan/ tumbuhan air.
2.      Ikan Sepat Siam (Trichogaster Pectoralis)
Sepat siam (Trichogaster pectoralis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae). Di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut Siamese gourami (Siam adalah nama lama Thailand) atau snake-skin gouramy, merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya.
Ikan rawa yang bertubuh sedang, panjang total mencapai 25cm; namun umumnya kurang dari 20 cm. Lebar pipih, dengan mulut agak meruncing. Sirip-sirip punggung (dorsal), ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, yang memanjang hingga ke ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. Rumus sirip punggungnya: VII (jari-jari keras atau duri) dan 10–11 (jari-jari lunak); dan sirip anal IX-XI, 36–38.
Ikan yang liar biasanya berwarna perak kusam kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya. Terkadang sisi tubuh bagian belakang nampak agak terang berbelang-belang miring. Sejalur bintik besar kehitaman, yang hanya terlihat pada individu berwarna terang, terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor.
3.      Ikan Sepat (Trichogaster Trichopterus)
Sepat adalah nama segolongan ikan air tawar yang termasuk ke dalam marga Trichogaster, anggota suku gurami (Osphronemidae). Di Indonesia, ikan ini lebih dikenal sebagai ikan konsumsi, meskipun beberapa jenisnya diperdagangkan sebagai ikan hias.
Ikan yang bertubuh pipih jorong, dengan moncong runcing dan mulut kecil. Sisik kecil-kecil, bersusun miring, dalam aneka ukuran. Gurat sisi sempurna, bentuk tabung yang kadang-kadang agak lengkung. Sirip punggung (dorsal) terletak jauh ke belakang, namun berakhir agak jauh di depan sirip ekor. Sirip perut (ventral) berubah bentuk; sepasang jari-jari lunak yang pertama berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk panjang sepanjang badan, ditambah dengan sepasang duri pendek dan beberapa pasang jumbai pendek yang tak seberapa terlihat. Sirip dubur (anal) memanjang mulai dari di bawah dada hingga pangkal ekor. Sirip dada (pectoral) kurang lebih meruncing, sementara sirip ekor sedikit membagi
4.      Ikan Tambakan (Helestoma Temminski)
Bentuk tubuhnya gepeng, dan agak lonjong. Karena persis seperti ikan gurami maka ikan ini sering disebut dengan kissing guramy. Kepala kecil dan bibirnya sedikit menonjol kedepan. Gurat sisi sempurna membujur dari kepala sampai pangkal sirip ekor. Sirip punggung dan sirip dubur panjang tetapi tidak begitu lebar. Ujung sirip ekor bentuknya lurus. Makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kecil. Karena mulutnya kecil maka pembudidaya seri memberikan dedak atau bungkil halus. Kalua diberi pellet maka harus pellet mikro yang berukuran sesuai dengan ukuran mulutnya yang kecil.
II.3      CICHLIDAE
        Keluarga Cichlidae, yang sudah dibudidayakan nila, nila merah dan  Mujair. Tanda-tanda umum ikan ini adalah :
·         Tubuh bentuknya lonjong, badannya tinggi.
·         Kepalanya besar, mulut lebar dengan bibir yang tebal.
·         Sisiknya besar dan kasar, gurat sisi terputus dibagian tengah badan.
·         Sirip punggung dan sirip dubur memiliki jari-jari keras dan tajam.
·         Tergolong ikan yang memelihara telur dan anaknya.
Berbagai jenis ikan golongan ini yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat antara lain :
1.      Ikan Mujahir
Ikan mujair mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1937 di Blitar. Disebut Mujahir karena yang memelihara untuk pertama kalinya adalah pak mujahir. Tubuhnya sedikit gepeng, tetapi pada bagian depan badan dan kepala agak membulat, mulutnya besar dan bibirya tebar.
Sirip punggung terdiri dari 15-17 jari-jari keras dan 10-12 jari-jari lunak. Sirip dubur pendek, sirip ekornya pada ujung-ujungnya agak membulat. Ikan mujahir termasuk ikan yang mengasuh anaknya. Setelah terjadi pemijahan, telur dibuahi di erami dalam mulutnya. Karena sering ditemukan di kolam budidaya ikan lain walaupun pembudidaya tidak pernak menabur benih ikan mujahir. Ikan mujahir liar akan masuk ke dalam kolam melalui saluran pemasukan. Ikan mujahir termasuk jenis ikan pemakan segala (omnivora).
2.      Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Ikan nila di indonesia baru dikenal pada tahun 1970, tubuhnya seperti ikan mujahir tetapi ukurannya lebih besar, panjang total tubuhnya dapat mencapai 50cm. Ikan nila tersebut sekarang sudah mulai menurun pertumbuhannya dan sekarang ikan nila disebut dengan nila lokal. Sedang ikan nila yang sekarang lebih banyak dibudidayakan adalah Nila Gift.
Nila Gift warna tubuhnya hitam agak keputihan, bagian bawah tutup insang berwarna putih, sedangkan nila lokal berwarna putih kehitaman, bahkan ada yang kekuningan. Garis linea lateralis terputus antara bagian atas dan bawahnya, yang membedakan dengan mujahir adalah ikan nila memiliki garis vertikal berjumlah 9 sedang mujahir garis vertikal ini tidak ada atau tidak jelas.
Sirip punggung memanjang mulai dari bagian atas tutup insang sampai bagian atas sirip ekor. Sirip dada dan sirip perut masing-masing sepasang sedang sirip anus satu agak memanjang. Sirip ekor membulat pada bagian ujung-ujungnya. Sirip ekor ini dapat digunakan untuk menandai sex kelamin. Pada yang jantan pada ujung sirip ekornya berwarna agak kemerahan.
Ikan nila ada yang berwarna merah disebut sebagai nila merah. Ikan nila merah ini merupakan hasil persilangan ke tiga Mujahir Merah dengan ikan Nila. Karena ikan Nila Merah merupakan ikan hibrida maka keturunannya sering dijumpai berwarna merah, hitam atau campuran keduanya. Untuk mendapatkan keturanan yang berwarna merah mulus maka dapat dipijahkan induk-induk yang berwarna merah mulus tanpa dijumpai noda hitam. Seperti ikan mujahir ikan Nila ini memelihara telur dan anaknya dengan cara dimasukkan dalam mulutnya.
II.4      CLARIDAE
Ikan dari keluarga Clariidae sekarang banyak dibudidayakan karena harganya terjangkau maka banyak pula masyarakat yang mengkonsumsi jenis-jenis ikan ini terutama lele. Jenis ikan yang dibudidayakan selain lele adalah lele dumbo. Tanda-tanda umum dari ikan keluarga Clariidae adalah sebagai berikut :
·         Tubuhnya tidak bersisik, kulitnya licin dengan banyak lender, kepalanya simetris dan agak gepeng.
·         Mulutnya lebar tidak bergigi.
·         Memiliki 4 pasang sungut sebagai peraba.
·         Bentuk tubuhnya bulat panjang, bagian badannya tinggi dan memipih kea rah ekor, punggung cembung da perut rata.
·         Gurat sisi sempurna merentang dari belakang tutup insang sampai pangkal sirip ekor.
·         Sirip punggung panjang dan lebar hanya terdiri dari jari-jari lunak saja dan hampir mencapai ekor.
·         Sirip dubur juga memanjang tetapi tidak sepanjang sirip punggung.
·         Sirip ekor membulat.
·         Ikan ini aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal).
·         Memiliki alat pernapasan tambahan tetapi bukan labirin.
Berbagai jenis ikan golongan ini yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat antara lain:
1.      Ikan Lele Lokal (Clarias Batrachus)
Suka hidup di dasar perairan, dan ikan ini dapat hidup pada air yang keruh. Kulitnya licin tidak bersisik. Dikenal 3 variasi warna dari ikan Lele Lokal ini yaitu hitam keabu-abuan, bulai/putih dan merah. Memiliki alat penapasarn tambahan yang disebut organ arboreal yang fungsinya sama dengan labirin. Kepalanya berbentuk segitiga dengan bentuk pipih, meemiliki 4 pasang sungut. Sirip dada mempunyai satu jari-jari keras dan runcing yang disbut patil serta beracun, jari-jari lunaknya berjumlah 8-11 buah. Dagingnya lunak dan halus serta tidak mengandung duri-duri kecil. Pemijahan secara budidaya biasanya dilakukan secara berpasangan.
Ikan lele ini pemakan segala tepapi lebih menyukai hewan renik/kecil sebagai makanannya, dapat hidup pada peraiaran yang kotor, panjang tubuhnya hanya sampai 45 cm. Jumlah telurnya relatif sedikit sekitar 1.000-1.500 butir setiap kali memijah. Ikan ini bersifat memelihara telur dan mengasuh anaknya. Memijah dilubang-lubang pemijahan untuk menyimpan telur dalam sarang dan memelihara anaknya.
2.      Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus)
Ikan ini sangat populer di Indonesia setelah keberadaan lele lokal semakin berkurang. Ikan ini bisa besar dan pertumbuhannyapun lebih cepat dibandingkan dengan lele lokal. Ikan lel dumbo diintroduksikan di Indonesa pada tahun 1989 yang didatangkan dari Taiwan. Ikan Lele Dumbo mempunyai sifat sebagai berikut:
·         Apabila terkejut atau stress warna badannya berubah menjadi loreng berwarna putih keabu-abuan.
·         Geraknya agresif.
·         Patilnya tidak beracun.
II.5      PANGASIDAE
tubuh ikan dari keluarga ini sedikit memipih pada sudut mulutnya memiliki 2-4 pasang sungut. Sirip punggung  dan sirip dada berpatil, pada bagian punggung ada sirip lemak yang kecil. Sirip dubur bentuknya panjang mulai belakang dubur sampai pangkal sirip ekor. Sirip ekor bercabang dua.
Ikan pangasius atau disebut ikan patin adalah jenis yang paling banyak dipelihara di Indonesia. Ikan ini ada yang menyebut ikan Jambal (Pangasius Pangasius). Ciri-cirinya tubunya panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna hitam kebiru-biruan. Pada ikan yang kecil (benih) warnanya putih berseling warna hitam lurus horizontal.



III.             JENIS IKAN YANG BANYAK DIBUDIDAYAKAN
Ikan yang paling banyak dibudidayakan pada keluarga Cyprinidae yaitu :
1.      Ikan Mas (Cyprinus Carpio)
Ikan mas yang sudah dibudidayakan banyak sekali rasnya antara lain ikan mas Majalaya, Punten, Si Nyonya, Ikan Mas Kaca, Ikan Mas Koi dan lain-lain. Ikan ini ditandai dengan sirip punggungnya memiliki 4 jari-jari keras dan 16-18 jari-jari lunak, sehingga sirip ini tampak panjang hampir sampai ekornya. Memiliki dua pasang sungut yang pendek. Ikan ini omnivore atau memakan segala macam makanan. Ikan ini disebut juga ikan karper. Pada ikan jantan dewasa apabila diurut perutnya keluar sperma yang berwarna putih kental. Harga ikan mas di tingkat petani yaitu Rp 40.000/Kg, dan pada tingkat konsumen yaitu Rp. 60.000/Kg 
2.      Ikan Nilem (Osteochilus Hasselti)
Bentuk tubuhnya hampir sama dengan ikan mas, bedanya kepalanya relative lebih kecil. Dewasanya juga tidak sebesar ikan mas. Memiliki 2 pasang sungut, dan bibirnya kasar berkerut karena ikan ini suka makan lumut/ alga yang menempel dibebatuan. Pakan utamanya diperairan umum adalah plankton dan tumbuh-tumbuhan air. Sirip punggungnya memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Warna tubuhnya hijau keabu-abuan atau hijau kemerah-merahan.Harga ikan mas di tingkat petani yaitu Rp 20.000/Kg, dan pada tingkat konsumen yaitu Rp. 30.000/Kg 
Ikan yang paling banyak dibudidayakan pada keluarga anabantidae yaitu:
Ikan Gurami (Ospronemus Gouramy)
Bentuk tubuhnya pipih dan lebar, tinggi badannya lebih dari separuh panjang tubuhnya. Pada waktu muda kepala lancip dan tubuhnya tampak bercak hitam membentuk garis tegak , namun setelah dewasa mulut tumpul dan garis-garis pada badannya hilang. Gurat sisi pada ikan ini sempurna.
Sirip punggung panjang dan lebar, memiliki 12-13 jari-jari keras yang keras dan tajam, dan 11-13 jari-jari lunak. Sirip ekor ujungnya membulat, sedang sirip perut terletak pada bagian depan dibawah sirip dada, dua dari jari-jari lunak pada sirip perut memanjang seperti pecut, yang berfungsi sebagai alat peraba. Sirip dada terdiri dari 2 jari-jari keras dan 13-14 jari-jari lunak. Pada ikan dewasa pangkal sirip dada sering digunakan untuk menandai sek kelamin. Apabila pangkal sirip dada  berwarna keputihan maka ikan tersebut berkelamin jantan, dan apabila berwarna kehitaman maka ikan tersebut betina.
Ikan gurami pada saat bertelur membuat sarang dari rumput-rumputan kering di dalam rongga pematang untuk menempatkan telurnya. Pada pemijahan yang dilakukan oleh pembudidaya tempat sarang telah disiapkan yang disebut sosog, dan bahan sarang dari serabut kelapa atau ijuk halus. Ikan gurami pada waktu muda pemakan segala tapi dewasanya menyukai daun-daunan/ tumbuhan air. Harga ikan Gurameh di tingkat petani yaitu Rp. 36.000/kg dan pada tingkat kosumen yaitu Rp. 43.000.
Ikan yang paling banyak dibudidayakan pada keluarga cichlidae yaitu:
Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Ikan nila di indonesia baru dikenal pada tahun 1970, tubuhnya seperti ikan mujahir tetapi ukurannya lebih besar, panjang total tubuhnya dapat mencapai 50cm. Ikan nila tersebut sekarang sudah mulai menurun pertumbuhannya dan sekarang ikan nila disebut dengan nila lokal. Sedang ikan nila yang sekarang lebih banyak dibudidayakan adalah Nila Gift.
Nila Gift warna tubuhnya hitam agak keputihan, bagian bawah tutup insang berwarna putih, sedangkan nila lokal berwarna putih kehitaman, bahkan ada yang kekuningan. Garis linea lateralis terputus antara bagian atas dan bawahnya, yang membedakan dengan mujahir adalah ikan nila memiliki garis vertikal berjumlah 9 sedang mujahir garis vertikal ini tidak ada atau tidak jelas.
Sirip punggung memanjang mulai dari bagian atas tutup insang sampai bagian atas sirip ekor. Sirip dada dan sirip perut masing-masing sepasang sedang sirip anus satu agak memanjang. Sirip ekor membulat pada bagian ujung-ujungnya. Sirip ekor ini dapat digunakan untuk menandai sex kelamin. Pada yang jantan pada ujung sirip ekornya berwarna agak kemerahan.
Ikan nila ada yang berwarna merah disebut sebagai nila merah. Ikan nila merah ini merupakan hasil persilangan ke tiga Mujahir Merah dengan ikan Nila. Karena ikan Nila Merah merupakan ikan hibrida maka keturunannya sering dijumpai berwarna merah, hitam atau campuran keduanya. Untuk mendapatkan keturanan yang berwarna merah mulus maka dapat dipijahkan induk-induk yang berwarna merah mulus tanpa dijumpai noda hitam. Seperti ikan mujahir ikan Nila ini memelihara telur dan anaknya dengan cara dimasukkan dalam mulutnya. Harga ikan Nila di tingkat petani yaitu RP 18.000/Kg dan pada tingkat konsumen yaitu Rp 24.000/Kg.
Ikan yang paling banyak dibudidayakan pada keluarga Clariidae yaitu :
Ikan Lele Lokal (Clarias Batrachus)
Suka hidup di dasar perairan, dan ikan ini dapat hidup pada air yang keruh. Kulitnya licin tidak bersisik. Dikenal 3 variasi warna dari ikan Lele Lokal ini yaitu hitam keabu-abuan, bulai/putih dan merah. Memiliki alat penapasarn tambahan yang disebut organ arboreal yang fungsinya sama dengan labirin. Kepalanya berbentuk segitiga dengan bentuk pipih, meemiliki 4 pasang sungut. Sirip dada mempunyai satu jari-jari keras dan runcing yang disbut patil serta beracun, jari-jari lunaknya berjumlah 8-11 buah. Dagingnya lunak dan halus serta tidak mengandung duri-duri kecil. Pemijahan secara budidaya biasanya dilakukan secara berpasangan.
Ikan lele ini pemakan segala tepapi lebih menyukai hewan renik/kecil sebagai makanannya, dapat hidup pada peraiaran yang kotor, panjang tubuhnya hanya sampai 45 cm. Jumlah telurnya relatif sedikit sekitar 1.000-1.500 butir setiap kali memijah. Ikan ini bersifat memelihara telur dan mengasuh anaknya. Memijah dilubang-lubang pemijahan untuk menyimpan telur dalam sarang dan memelihara anaknya. Harga ikan lele pada tingkat petani yaitu Rp 16.000/kg dan pada tingkat konsumen yaitu Rp 22.000/kg.
Ikan yang paling banyak dibudidayakan pada keluarga pangasidae yaitu:
Ikan pangasius atau disebut ikan patin adalah jenis yang paling banyak dipelihara di Indonesia. Ikan ini ada yang menyebut ikan Jambal (Pangasius Pangasius). Ciri-cirinya tubunya panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna hitam kebiru-biruan. Pada ikan yang kecil (benih) warnanya putih berseling warna hitam lurus horizontal. Harga ikan patin pada tingkat petani yaitu Rp 16.000kg. dan pada tingkat konsumen yaitu Rp24.000/kg.